Sabtu, 10 Januari 2009

Sistem Jaminan Sosial Nasional Perlu Diperjelas



JAKARTA, KOMPAS - Sistem jaminan sosial nasional harus transparan dan menjamin kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat di Tanah Air. Oleh karena itu, penerapan sistem tersebut harus terencana berlandaskan riset ataupun bukti yang kuat dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

”Dengan terbentuknya Dewan Jaminan Sosial Nasional beberapa waktu lalu, maka programprogram jaminan sosial yang selama ini ada diharapkan bisa segera diselaraskan dengan sistem nasional,” kata guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany, Jumat (2/1) di Jakarta.

Kepala Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof Laksono Trisnantoro menilai dewan yang baru terbentuk itu kurang mempunyai wakil dari perguruan tinggi.



”Hal ini disayangkan mengingat sistem jaminan sosial nasional merupakan hal yang secara teknis cukup kompleks. Apabila dewan ini terbentuk dengan muatan politis kuat, tanpa didukung banyak pertimbangan teknis, dewan ini mungkin akan sulit berkembang,” ujarnya.

”Jangan sampai membuat kebijakan nasional yang terburuburu tanpa rencana atau road map yang jelas,” ujarnya.

Ia menilai, selama satu dekade ini sistem jaminan sosial, khususnya yang kesehatan, terlalu sering berganti yang tidak dilandasi riset dan bukti kuat.

Menurut Hasbullah Thabrany, langkah yang mendesak dilakukan dewan itu adalah merumuskan amandemen Undang Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dewan itu juga bertugas menyelaraskan badan penyelenggara jaminan sosial dan program-program jaminan sosial yang ada agar sesuai dengan UU SJSN. ”Mengubah BUMN menjadi badan khusus jaminan sosial merupakan faktor penting,” ujarnya.

Kesamaan pandangan

Selama ini masih dicari kesamaan pandangan antarpihak terkait tentang bentuk badan penyelenggara jaminan sosial yang terdiri atas Askes, Jamsostek, Taspen, dan Asabri. ”Perubahan bentuk perusahaan dari perseroan terbatas menjadi badan khusus jaminan sosial diperlukan karena desain jaminan sosial berbeda dengan desain bisnis. Badan khusus itu diatur dengan UU karena menyangkut kepentingan seluruh rakyat,” kata Hasbullah Thabrany.

Nantinya, badan khusus itu tidak hanya nirlaba atau tidak memberi dividen kepada pemerintah, tetapi juga harus menjalankan sistem jaminan sosial itu secara transparan melalui badan tripartit yang terdiri atas pemberi kerja, peserta, dan wakil pemerintah atau wakil masyarakat. Tanpa ada transparansi, bisa jadi perusahaan dan masyarakat akan kurang percaya terhadap sistem ini.

Program jaminan kesehatan juga membutuhkan peraturan pemerintah atau peraturan presiden mengenai bantuan iuran pemerintah, proporsi iuran pemerintah daerah dan pusat, apa saja yang dijamin dan tidak dijamin. ”Nantinya, rakyat miskin di sektor informal bisa dijamin kesehatannya melalui iuran dari pemerintah,” kata Thabrany.

Saat ini pemerintah masih belum menjalankan sistem jaminan sosial nasional itu, tetapi baru menerapkan program jaminan kesehatan masyarakat. Program pemberian layanan kesehatan secara gratis kepada masyarakat miskin itu dinilai masih belum sesuai dengan cita-cita sistem jaminan sosial yang bertujuan menjamin kesejahteraan sosial, termasuk kesehatan dan tunjangan hari tua, kepada seluruh lapisan masyarakat atau cakupan universal. (EVY)
Read More… Read More… Read More…

Larang besar siswa bawa HP?!!!??**

Satu persatu peraturan seputar dunia pendidikan muncul ke permukaan. Kalau sebelumnya pelajar heboh dengan larangan membawa handphone berkamera ke sekolah, kali ini benar-benar tidak ada toleransi. Berkamera atau tidak, handphone tak boleh dibawa ke sekolah.
Aturan tersebut diharapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Padang agar tertera pada tata tertib sekolah. Dinas Pendidikan Kota Padang sudah mengeluarkan aturan untuk menertibkan siswa SMP, SMA, SMK sederajat yang menggunakan alat komunikasi selular handphone yang memiliki kamera dan Bluetooth. Larangan itu dikeluarkan didasari atas banyak siswa yang menggunakan alat komunikasi canggih tersebut untuk kepentingan yang negatif sehinggga menganggu pelajaran di sekolah.
Handphone kini tak lagi barang mewah. Siapa pun punya, tak terkecuali pelajar.

Seberapa penting kah sebuah handphone untuk pelajar?
Melisa Fitri Yani, SMA N 14 Padang, angkat bicara. Baginya, handphone adalah alat komunikasi, untuk menelepon, sms, dan internet. Pendapat Melisa ini disetujui oleh Alven Stoner dari SMA N 2 Bangko. Menurutnya, kegunaan terpenting dari ponsel adalah menghubungi orang yang ia rindukan. Selain sms, menelepon, dan internet, ternyata alat komunikasi ini juga digunakan untuk main game oleh Alfajri Putra, SMA N 4 Padang. Maria Ulfa, yang kini sudah terdaftar sebagai siswa di SMA N 10 Padang mengaku handphone-nya sudah seperti urat nadi. “Aku nggak bisa hidup tanpa handphone.” Begitu jawab alumni SMP N 13 Padang ini. Fauqal Anhar yang kini bersekolah di SMA N 1 Padang juga ikut berpendapat. “Kalau nggak ada handphone, aku nggak bisa komunikasi sama orang tua dan pacarku,” ujarnya.
Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, Arif Firmansyah, dari SMP N 13 Padang serentak menjawab fungsi utama handphone untuk mereka. “Untuk alat komunikasi, supaya orang tua bisa mengontrol keberadaan kita, bisa dapat kenalan baru, banyak deh pokoknya.”
Rancangan Undang-Undang agar pelajar tidak diperbolehkan membawa handphone diperbincangkan di mana-mana. Perilaku pelajar dewasa ini semakin menjadi-jadi. Tak sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di handphone. Belum lagi, handphone juga digunakan untuk tukar-tukanran jawaban ujian. Apa, ya, pendapat teman-teman kita menanggapi masalah ini. Apakah mereka salah satu dari pelajar tersebut?
Maria Ulfa menilai negative pelajar yang melakukan penyimpangan tersebut. Ia mengakui, penyimpangan tersebut memang sering terjadi, namun tergantung invidu masing-masing menyikapinya. Fauqal setuju. Menurutnya, penyimpangan ini tergantung orangnya, mau digunakan untuk hal yang positif atau negative. “TIdak semua pelajar yang menyimpan foto atau video porno di handphone-nya.” Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah memandang penyimpangan ini merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja. Melisa lain lagi. Pendapatnya, penyimpangan ini terjadi karena ketidakmampuan remaja dalam menghadapi perkembangan teknologi sebagai hal yang positif.
Rancangan Undang-Undang tersebut sudah mulai diterapkan oleh beberapa daerah, seperti Pekanbaru, Samarinda, Mataram, bahkan Kota Padang sendiri. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pekanbaru, Syahril Manaf menawarkan solusi untuk kebijakan ini. Tidak mungkin larangan diberlakukan tanpa ada solusi dari pihak sekolah. Semisal larangan bawa HP, solusinya pihak sekolah harus menyediakan fasilitas telepon umum. Pemerintah Samarinda pun tak mau kalah. Pemerintah akan mengunjungi sekolah-sekolah dan menggelar razia dadakan. Sedangkan pemerintah kota Padang akan mencantumkan larangan tersebut sebagai salah satu tata tertib sekolah.
Bagaimana ya pendapat teman-teman pelajar tentang larangan membawa handphone ke sekolah? Anugerah atau musibah?
Wulandari J. Z dari SMK 2 Pariaman menyatakan setuju dengan larangan tersebut, Menurutnya, penggunaan handphone di sekolah dapat merusak proses belajar mengajar. Alasan mengganggu PBM ini juga disampaikan Syafri Kurniawan dari SMK N 8 Padang. “Sebagian siswa sudah menyalahgunakan handphone,” ungkapnya. Aril Irwansyah dari SMA N 6 Padang sependapat. Sekolah hanya beberapa jam, waktu itu harus dimanfaatkan dengan baik. Jadi, menurut Aril, handphone di sekolah tak ada gunanya. Andre Febra dari Rilma dari SMAN 2 Lubuk Basung juga setuju. Membawa handphone ke sekolah akan mengganggu belajar. “Sedang asyik belajar, eh tahunya ada yang sms atau Cuma missed called. Apalagi kalau sedang ulangan, bisa-bisa nilaiku jeblok karena nggak konsentrasi,” ungkap dua pelajar ini. Sesria Arima, SMP N 3 Padang mendukung program pemerintah ini. Menurutnya, pemerintah pasti mempunyai alasan dan tujuan untuk kebaikan kita bersama. Dila Okta Malina dari SMA N 2 Padang mengatakan bahwa larangan membawa handphone itu adalah suatu keputusan yang sangat bagus. Ia tidak ingin nama sekolahnya buruk hanya karena kelakuan teman-temannya tentang penyalahgunaan alat komunikasi canggih ini.
Jehan Khairina, SMP N 8 Padang ikut bicara. Memang keputusan ini ada pro dan kontranya, keputusan ini lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Ia berharap teman-teman lainnya sependapat dengannya.
Seperti kata Jehan, ada yang pro, tentu ada yang kontra. Berikut pendapat teman-teman kita yang menolak larangan membawa handphone ke sekolah.
Alven Stoner protes. “Nggak bisa dong, kalau ada keperluan mendadak gimana?” Maria Ulfa tawar menawar dengan kebijakan ini. Menurutnya, handphonoe berkamera memang harus ditertibkan, tapi tak ada salahnya kalau membawa handphone tanpa kamera dan Bluetooth. Fauqal lebih hitung-hitungan. Ia berpendapat, larangan ini melanggar hak asasi karena handphone dibeli dengan uang masing-masing. Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah hanya melontarkan pertanyaan, “Kenapa satu yang berbuat, semua kena getahnya?”
Rara dari SMKNT Padang malah mengkhawatirkan dampaknya. “Kalau dilarang bawa handphone, takutnya pelajar jadi gaptek.”
Kesimpulannya, pada saat sekarang ini para pelajar sedang maraknya menggunakan HP selain alat sebagai alat komunikasi juga digunakan sebagai alat untuk melihat hal-hal yang belum sepantasnya untuk dilihat alias gambar atau video porno. Hal ini nantinya dapat menyebabkan banyaknya generasi muda, khususnya pelajar saat sekarang ini menjadi rusak dan melakukan tindakan yang menyimpang.
Selain itu, Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah menjadi tidak terganggu karena saat sekarang ini pelajar sering menggunakan HP dalam PBM. Akibatnya, konsentrasi belajar menjadi terganggu. Oleh karena itu, larangan ini sangat tepat sekali untuk diterapkan di sekolah-sekolah.
Sisi Negatif dari larangan ini juga ada, seperti terhambatnya komunikasi pelajar dengan keluarga ketika pelajar berada di sekolah, maksudnya kalau nantinya ada kejadian mendadak dari keluarga yang perlu diberitahukan kepada anaknya (pelajar) yang sedang berada di sekolah menjadi sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Serta menghilangkan fungsi HP sebagai alat komunikasi yang paling efektif dalam kehidupan pelajar, khususnya ketika sedang berada di sekolah.
Begitu banyak yang mendukung dan menolak kebijakan ini. Tapi masih perlu kita tanyakan lagi, seberapa pentingkah larangan itu bagi pelajar?
Melisa mengaku, larangan itu sangat penting untuk hasil belajar yang lebih baik. Pentingnya larangan ini juga disetujui teman-teman lainnya. Mereka hanya berharap proses belajar mengajar tidak terganggu hanya karena penyalahgunaan handphone. Larangan itu diharapkan akan memaksimalkan proses belajar mereka agar mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi Indonesia, agama, dan orang lain.
Banyak yang mendukung kebijakan ini, banyak pula yang menolak. Banyak yang mengatakan bahwa larangan ini tidak penting. Contohnya saja, Alfajri Putra dan Alven Stoner. Bagi mereka, handphone sudah merupakan kebutuhan primer manusia, termasuk pelajar. Maria Ulfa sependapat dengan Alfajri dan Alven. “Larangan itu nggak penting banget. Merugikan kita yang tidak bersalah,” ujarnya. Fauqal beda lagi. Menurutnya, tindakan ini tidak efektif. Semakin dilarang, maka manusia akan semakin berniat untuk melanggarnya. “Yang terpenting adalah kesadaran diri sendiri,” ungkap siswa XII IPA ini.
Ternyata banyak juga yang kurang setuju. Kira-kira, solusi seperti apakah yang mereka tawarkan untuk mengatasi penyimpangan ini?
Melisa Fitri Yani menjawal simple. “Nggak boleh bawa handphone kamera!” Maria Ulfa kali ini setuju dengan Melisa. Pelajar tetap dibolehkan membawa handphone, tetapi solusinya adalah sanksi yang tegas bagi mereka yang tertangkap melakukan penyimpangan. Tidak tegas dan sanksi ini juga ditawarkan Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah, tiga serangkai dari SMP N 13 Padang.
Lagi-lagi Alven dan Alfajri sepakat, handphone harus dinonaktifkan pada jam pelajaran. Larangan seperti itu saja cukup untuk mereka. Larangan sederhana ini juga dipaparkan Fauqal. “Nonaktifkan saja pada jam pelajaran agar tidak mengganggu.”
Tak hanya pelajar yang menanggapi masalah ini. Orang tua pun ternyata antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para reporter. Yuk, kita simak!
Tak bisa dipungkiri, penyalahgunaan handphone tak lepas dari peran orang tua. Perlu kita ketahui alasan orang tua membelikan handphone untuk anak-anak mereka.
Ibu May R. B Johan menjawab singkat, “Untuk komunikasi dan mengontrol anak-anak.” Sepertinya para orang tua sepakat dengan jawaban Ibu May.
Seperti hangatnya pembicaraan pelajar, orang tua tak kalah semangat ketika menanggapi munculnya Rancangan Undang-Undang tentang larangan membawa handphone ke sekolah. Ibu Jamilah, seorang ibu rumah tangga memikirkan positif negatifnya. Menurutnya, di satu sisi bagus karena tidak ada lagi kecemburuan social di antara pelajar. Di sisi lain, saya tidak dapat mengetahui keberadaan anak-anak saat pulang sekolah.” Drs. Mas’ud, Wakasek SMP N 13 Padang menyatakan bahwa dirinya setuju dengan RUU tersebut, namun dengan konsekuensi yang jelas. Ibu Darlina, guru matematika di SMP N 13 Padang lain lagi. Menurut beliau, jika orang tua sudah mengontrol dan mendidik anaknya dengan baik di rumah, RUU itu tidak perlu.
Bagaimana ya pendapat orang tua kita jika RUU tersebut benar-benar diberlakukan di Sumater Barat?
Ibu Darlina mengharapkan keterlibatan seluruh pihak dalam penegakan peraturan ini. Bapak Mas’ud setuju. Ia sangat mendukung diberlakukannya aturan tersebut. “Sangat membantu untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang buruk.”
Berbeda dengan kedua orang tua di atas, Ibu May dan Ibu Jamilah mengaku keberatan dengan diberlakukannya aturan tersebut. Alasannya pun kompak. “Tidak bisa mengawasi keberadaan anak-anak.”
Jika memang begitu, larangan seperti apa sih yang cocok menurut orang tua kita?
Keempat responden kita sepakat dengan larangan tidak mengaktifkan handphone ketika PBM sedang berlangsung. Selain itu, sanksi yang tegas juga harus diberlakukan baik oleh pihak sekolah maupun orang tua jika anak-anak sudah melakukan penyimpangan. Ibu Jamilah mengusulkan untuk tidak memberikan handphone kamera pada anak. “Untuk menghindari penyalahgunaan,” ungkap Ibu kelahiran 1955 ini.
(Maghriza Novita Syahti)
Read More… Read More… Read More…

Islam dan Kesenjangan Sosial

Jika kita perhatikan bangsa ini secara lebih mendalam, sesungguhnya tidaklah terlalu miskin dan tertinggal bilamana dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Para pengamatlah yang seringkali memberikan hasil analisisnya secara berlebihan. Bangsa ini seringkali dikatakan sebagai bangsa tertinggal, memiliki SDM yang lemah, terpuruk, miskin dan sebutan-sebutan lain yang kurang menguntungkan. Mungkin dengan menunjukkan hasil analisisnya itu, menganggapnya sebagai cara yang tepat. Dengan kesimpulannya itu dimaksudkan agar segera tumbuh kesadaran sehingga lahir semangat bangkit untuk maju.

Memang, bisa jadi dengan mengungkap kelemahan itu, orang bisa sadar akan posisinya. Tetapi sesungguhnya juga tidak menutup kemungkinan, ungkapan tentang kelemahan-kelemahan itu justru akan melahirkan mindset atau citra diri bahwasanya bangsa ini memang tertinggal, lambat dan tidak maju. Dengan ungkapan negatif seperti itu, akan mengakibatkan sulit membangun kepercayaan diri, kebanggaan, memiliki perasaan sama dengan bangsa lain dan bahkan juga rasa syukur sebagai bangsa Indonesia. Keberhasilan membangun jiwa besar adalah sebagai modal untuk meraih kemajua. Bangsa ini harus bangga menjadi dirinya sendiri. Jiwa bangsa ini harus ditumbuhkan sebagai bangsa Indonesia, dan bukan menjadi bangsa lain. Seluruh bangsa Indonesia harus cinta tanah airnya dan atas dasar kecintaan itu akan melahirkan jiwa berjuang dan berkurban untuk negeri yang dicintainya.



Jika dikatakan bahwa di antara rakyat Indonesia masih ada yang miskin, memang benar. Tetapi kemiskinan itu tidak diderita oleh seluruh bangsa ini. Jumlah mereka yang masih miskin relatif banyak, tentu tidak bisa diingkari. Tetapi sesungguhnya di tengah-tengah yang miskin itu, terdapat pula mereka yang sudah berhasil mengembangkan diri, dan bahkan meraih kekayaan yang luar biasa. Lihat saja di kota-kota besar, terdapat rumah-rumah mewah. Bangunan-bangunan kantor berukuran besar, hotel-hotel yang sulit dihitung karena jumlahnya yang sedemikian banyak, kendaraan mewah berkeliaran di jalan-jalan raya, fasilitas pendidikan, perbankan di mana-mana. Tetapi memang, di tengah-tengah kemewahan itu, masih terdapat rumah-rumah sederhana, bahkan tidak layak huni. Rumah-rumah atau tempat tinggal yang kurang manusiawi itu masih terdapat di mana-mana. Jika kita sempat ke kota besar sekalipun, di sela-sela rumah mewah, masih mudah disaksikan rumah-rumah kumuh di pinggir jalan, pinggir sungai, di bawah jembatan dan seterusnya. Demikian juga di tengah-tengah bangunan kampus perguruan tinggi yang megah, ternyata masih terdapat warga negara yang tidak mampu menyentuh lembaga pendidikan, sehingga mereka belum mengenal huruf-huruf sebagai alat komunikasi.

Maka yang terjadi di tanah air ini sesungguhnya adalah kesenjangan. Yaitu kesenjangan yang sedemikian jauh, antara mereka yang berhasil mengembangkan kehidupannya dengan mereka yang masih belum menemukan pintu kemajuan itu. Bangsa ini setelah merdeka, baru bisa berhasil mengantarkan sebagian warganya meraih sukses baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Sebaliknya, masih terdapat sebagian yang mengalami ketertinggalan. Keadaan seperti itu melahirkan kesenjangan sosial yang luar biasa. Sebagian telah maju dan sebagian lainnya tertinggal. Ketertinggalan itu disebabkan oleh banyak hal, di antaranya misalnya karena tidak memiliki akses yang cukup, atau belum menemukan pintu-pintu pengembangan ekonomi karena lemahnya jaringan sosial yang dimiliki, dan yang lebih nyata kesenjangan itu disebabkan oleh sentuhan pendidikan yang tidak merata. Umumnya mereka yang tertinggal itu adalah orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan secara cukup. Oleh karena itu, kesenjangan ekonomi tersebut memiliki korelasi posisitif dengan kesenjangan pendidikan. Mereka yang miskin secara ekonomi biasanya juga miskin dalam ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

Kesenjangan sosial dalam sejarah kemanusiaan bukanlah hal baru. Dari zaman ke zaman keadaan itu selalu terjadi. Adalah ajaran Islam memberikan tuntunan untuk keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan itu. Secara ekonomis, untuk mendekatkan antara yang berlebih dengan yang kekurangan, Islam memiliki konsep yaitu apa yang disebut dengan kewajiban membayar zakat, infaq, dan shodaqoh. Setiap orang yang memiliki penghasilan sejumlah tertentu diwajibkan untuk membayar zakat. Setiap kali terdapat perintah sholat selalu segera diikuti perintah untuk berinfaq. Harta hasil infaq harus disalurkan kepada orang yang perlu ditolong seperti faqir, miskin, ghorim, hamba sahaya mu’alaf dan lain-lain. Perintah berinfaq dari harta yang dimiliki diikuti dengan jumlah besarnya harta yang harus dikeluarkan. Misalnya setiap jenis pendapatan, besar zakatnya adalah antara 2,5 % hingga 12.5 % . Islam mengajarkan kewajiban untuk berbagi di antara sesama. Namun sebaliknya, Islam tidak perah mendorong agar oang-orang yang tertinggal, yakni fakir dan miskin tetap memperkukuh posisinya sebagai orang miskin. Hadits Nabi justru mencela orang yang dalam mencukupi kebutuhannya tidak mau berusaha, dan hanya ditempuh dengan cara meminta-minta. Pekerjaan menggantungkan diri pada orang lain, dan selalu meinta-minta dikecam oleh ajaran Islam. Sebagai seorang yang beriman dan muslim harus beramal dan bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ditegaskan misalnya, setelah selesai sholat jum’at, para jama’ah dianjurkan bertebaran untuk mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Islam tidak pernah menempatkan orang yang sekedar tertinggal di bidang ekonomi sebagai orang nista dan dipandang rendah. Tinggi rendahnya derajad seseorang bukan diukur dari pangkat, jabatan, tingkat eknomi mereka, melainkan didasarkan atas iman, ilmu dan ketaqwaan. Menurut Islam orang miskin tidak selalu berada pada posisi rendah, sekalipun Islam juga mendorong agar orang mengembangkan kekuatan ekonominya. Dalam hal ini kemiskinan tidak selalu dilihat sebagai kenistaan seseorang. Islam juga tidak melihat seseorang hanya sebatas dari keadaan penampilannya, misalnya dari baju yang dipakai atau simbul-simbul luar, tetapi Islam akan melihat prestasi kerja seseorang-----amal sholeh, dan kekuatan dan keindahan akhlaknya.

Islam mengajarkan agar selalu membangun silaturrahmi, mencintai sesama, saling menghargai dan selanjutnya saling tolong menolong dalam kebaikan. Hadits Nabi mendorong agar umatnya saling menjalin tali silaturrahim. Dikatakan bahwa siapa saja yang ingin dibanyakkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka agar supaya selalu menjalin hubungan silaturrahim. Demikian juga agar sesama muslim saling mencintai. Dalam hadits nabi dikatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga ia mau mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana mencintgai dirinya sendiri. Hadits tersebut memberikan tuntunan bahwa seseorang disebut sebagai beriman manakala ada kesediaan mencintai sesamanya. Konsekuensi mencintai adalah kesediaan untuk memberikan pengorbanan. Sehingga, seseorang dikatakan baru beriman manakala ada kesediaan melakukan pengorbanan demi untuk saudaranya. La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsihi. Islam juga mengajarkan tolong menolong dalam kebaikan dan atas dasar taqwa. Tetapi Islam melarang tolong menolong itu dilakukan dalam melakukan kejelekan dan keburukan. Lebih dari itu, Islam mengajarkan selalu berjama’ah. Pelaksanaan kegiatan ritual kepada Allah, sholat lima waktu misalnya diutamakan berjama’ah dan menurut tuntunan Rasulullah, dilakukan di masjid. Sholat berjama’ah di masjid nilai pahalanya dilipatgandakan sampai 27 kali dibanding sholat sendirian.

Terkait dengan konsep jama’ah, termasuk dalam menunaikan sholat berjama’ah sehari-hari, adalah sesuatu yang sangat diutamakan oleh Islam. Bisa dibayangkan sedemikian indahnya ajaran Islam, jika perintah itu benar-benar ditunaikan dalam kehidupan. Contoh sederhana, misalnya sebuah komunitas muslim yang di sana terdapat fasilitas masjid. Umpama seluruh warganya setiap pagi dan petang berjama’ah semua, kecuali yang udzur karena alasan tertentu. Setiap sholat subuh komunitas muslim itu misalnya berjama’ah. Mereka pada pagi-pagi buta, sudah bangun dari tidur, bersama isteri dan anak-anaknya mengambil air wudhu dan segera menuju ke masjid memenuhi panggilan adzan. Di tempat ibadah itu, dengan media sholat berjama’ah, mereka pagi-pagi sudah bertemu satu sama lain dengan warga jama’ah masjid. Mereka bersama-sama di pagi itu, dengan dipimpin oleh seorang imam menghadap Allah, melakukan sholat subuh berjama’ah.

Seluruh kaum muslimin ketika itu, di pagi hari sebelum mengucapkan kalimat-kalimat lain, bersama-sama mensucikan asma Allah, bertahmid dan bertakbir mengagungkan asma Allah. Dalam kesempatan itu, mereka bertemu, bersillaturrahim dan saling menyapa dan mengetahui keadaan masing-masing. Kegiatan rutin seperti ini, akan melahirkan kesamaan dan kebersamaan yang kemudian juga terjad saling mengetahui, memahami, menghargai dan kemudian saling menolong dan membantu. Bukankah ini adalah gambaran yang amat indah dari sebuah kehidupan yang diajarkan oleh Islam melalui Rasul-Nya Muhammad saw. Ajaran Islam seperti ini semestinya dilakukan bukan pada saat-saat tertentu sebatas musiman, misalnya hanya pada setiap bulan Ramadhan, melainkan dilakukan sepanjang masa secara istiqomah. Inilah bangunan sosial yang ditawarkan oleh ajaran Islam yang sedemikian mulia dan indah. Itulah bukti kebenaran apa yang dikatakan oleh Allah bahwa manakala penduduk negeri beriman dan bertaqwa maka akan dibukakan pintu berkah dari langit dan dari bumi. Akhirnya dengan begitu kesenjangan sosial pun akan hilang dengan sendirinya. Allahu a’lam.

Prof. DR. H. Imam Suprayogo
Read More… Read More… Read More…

Jaringan Internet Tenaga Surya

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bruce Baikie dan Marc Pomerleau hanyalah karyawan di Sun Microsystems. Tapi kiprahnya di sebuah organisasi nirlaba, Green Wi-Fi, setidaknya akan memberikan manfaat besar bagi anak-anak di negara miskin, jauh dari tempat tinggal mereka di San Fransisco, Amerika Serikat.

Baru-baru ini Baikie dan Pomerleau mengembangkan akses Internet melalui jaringan nirkabel (wireless fidelity/Wi-Fi) dengan menggunakan tenaga surya. Teknologi ini mereka kembangkan untuk aplikasi di daerah terpencil di negara berkembang, yang belum terjangkau jaringan listrik.



Seperti di daerah India bagian utara. Di sana sudah tersedia koneksi telekomunikasi kabel untuk Internet. Namun, sayang, justru kabel listrik yang belum tersambung. Pomerleau dan Baikie memilih teknologi Wi-Fi karena teknologi ini yang paling masuk akal dan relatif lebih murah untuk dikembangkan.

Konsep yang mereka pakai cukup simpel. Setiap node (perangkat yang mampu berinteraksi dalam jaringan) diberi sebuah router yang dilengkapi baterai dan panel surya untuk mengisi baterainya. Node itu ditaruh pada atap, dan sinyal jaringan Wi-Fi ditransfer melalui standar jaringan nirkabel 802.11b/g.

Baikie juga merancang software yang mampu mengatur kerja jaringan ini. Bila asupan energi berkurang sedikit, akses Internet pada beberapa komputer tertentu akan terputus, dan hanya memberikan akses pada kelompok tertentu, misalnya guru. Bisa juga lebar-pita yang dipakai bakal dikurangi, sehingga pengguna hanya dapat memakai e-mail, misalnya. Jadwal dan lama pemakaian Internet pun bisa diatur.

Tapi apa yang terjadi bila musim hujan tiba? Nah, Baikie dan Pomerleau menambahkan sebuah pengontrol pada alat itu untuk melakukan pengaturan otomatis dalam menyuplai energi ke router. Konsumsi energi disesuaikan dengan situasi, bergantung pada level baterai yang masih tersisa dan jumlah sinar matahari yang mereka terima di panel surya.

Saat dites di atap dapur rumah Baikie di Bay Area, hujan sempat turun hingga 28 hari. "Tapi jaringan bisa tetap berjalan dengan lancar," kata Pomerleau. Bahkan, setelah masuk hari ke-30, jaringan juga tetap menyala. Semua peralatan ini hanya memakan biaya US$ 200 atau sekitar Rp 1,8 juta untuk tiap node.

Saat ini, Green Wi-Fi telah mendapatkan dana awal dari Program One Laptop Per Child (OLPC) untuk memproduksi dan menguji prototipe node yang akan digunakan. OLPC adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memberikan komputer jinjing kepada anak-anak di negara miskin seharga US$ 100 atau Rp 900 ribu.

"OLPC menunjukkan minat yang besar untuk masalah ini," ujar Pomerleau. Maka Pomerleau pun akhirnya menanggalkan pekerjaannya sebagai anggota staf pemasaran di Sun. Pilot project ini akan segera dimulai musim panas ini, di tiga sekolah di India bagian utara, Uttar Pradesh.
Read More… Read More… Read More…

Rancang Jaringan Internet Sendiri dengan Homebrew

Mahasiswa bisa merancang perangkat jaringan internet sendiri dengan teknik sederhana. Dengan modal sedikit, mahasiswa tidak perlu lagi antre lama di warnet. Jaringan internet sederhana ini bisa memacu penggunaan internet karena bisa menghemat biaya.
“Mahasiswa itu harus banyak bereksperimen, cobalah lakukan hal-hal baru. Jika akses internet murah dan mudah, maka mahasiswa akan semakin pintar. Jika banyak orang pintar, kita akan semakin maju,” kata Dr Onno W. Purbo, pakar teknologi informasi dari Bandung, dalam “Hacking and Network Security dan Membangun Telkom Sendiri dengan 2.4 Ghz” yang digelar BEM Fakultas Teknik UMM di kampus setempat, belum lama ini.

Teknik merakit sendiri (homebrew) internet sangat simpel. Yang jelas, jaringan infrastruktur dipenuhi, semua bisa dipraktikkan. Apalagi saat ini harga peralatan wireless LAN dan bandwidth internet sudah terjangkau. Peralatan yang harus dipersiapkan antara lain: 1 buah access point (AP) yang terhubung jaringan LAN kabel dan router untuk koneksi internet, PC pada jaringan LAN kabel (wired LAN) berkomunikasi dengan PC wireless LAN melalui Access Point, dan masih banyak lagi.
Uniknya, masih kata Onno, perangkat kelengkapannya bisa memakai wajan (perangkat memasak di dapur) yang dikreasikan sebagai antena. Khusus antena wajan ini, membutuhkan wajan dengan diameter 42,5 cm, pipa paralon 3 inci satu meter, tutup paralon hingga aluminium foil. “Simpel, tetapi harus telaten. Jika sudah berhasil maka akan banyak dirasakan manfaatnya,” kata dia.


Lebih lanjut dia menjelaskan kebutuhan akses internet semakin meningkat di berbagai kalangan. Sebut saja, perkantoran, pendidikan, pemerintahan, bisnis dan rumah. Menjamurnya RTRW Net dengan peralatan homebrew dengan harga murah turut mendorong meningkatnya pengguna internet di kalangan masyarakat. Karena ini dapat menurunkan biaya untuk pembangunan jaringan. Hadir juga sebagai pembicara, komunitas hacking Bandung yang bernama New Hack. (yos/lia/radarmalang)
Read More… Read More… Read More…

Makna Dibalik Suatu Kesuksesan



Di sebuah desa terpencil, hidup seorang pemuda yang cerdas dan mempunyai semangat yang tinggi. Si pemuda tersebut tinggal bersama dengan ayahnya yang adalah seorang buruh tani harian dan dua orang adik perempuan yang masih kecil. Ibunya telah lama meninggal sejak melahirkan adik bungsunya.
Kehidupan keluarga pemuda itu sangat sederhana dan penghasilan ayahnya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berempat. Melihat kondisi perekonomian keluarganya yang serba berkekurangan, si pemuda tersebut bertekad ingin mengubah kehidupannya dan keluarganya menjadi lebih baik. Dia berencana ingin sekolah sambil bekerja dikota besar, menuntut ilmu setinggi tingginya sehingga dia dapat memperbaiki taraf hidup keluarganya di desa.


Maka diputuskannya pada suatu hari, dengan berbekal sekedarnya, si pemuda pamit kepada ayahnya untuk pergi ke kota. " Ayah, doakan saya agar berhasil kelak di kota, saya tidak bisa tinggal diam dengan kondisi kita sekarang ini dengan tetap tinggal di desa, saya harus merubah nasib saya dan juga keluarga kita ini?!", ujar pemuda pada ayahnya. Walaupun dengan sangat berat hati, ayah si pemuda tersebut akhirnya merestui kepergian si pemuda tersebut.
Sesampainya dikota, si pemuda berkenalan dengan seorang anak tabib terkenal dikota tersebut. Dari perkenalan tersebut si pemuda menceritakan perihalnya ke kota serta keinginannya untuk mencari kerja di kota. Mendengar cerita si pemuda timbul rasa iba anak tabib tersebut, maka akhirnya si pemuda itu diajaknya bekerja di toko obat ayahnya.
Si pemuda begitu rajin bekerja dan mempunyai tekad yang sangat kuat dalam hal belajar. Hal ini membuat si tabib menjadi sayang dan perhatian kepada si pemuda. Diajarkannya beberapa ilmu pengobatan sederhana hingga cara meracik obat.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tidak terasa telah 8 tahun si pemuda telah meninggalkan desa tercintanya. Berkat semangat juang yang sangat tinggi dan tidak mengenal putus asa serta dilandasi tujuan yang sangat jelas, akhirnya si pemuda tersebut menjadi seorang tabib yang sangat hebat, keahliannya dalam mengdiagnosa penyakit serta meracik obat terkenal sangat manjur. Berbagai kalangan masyarakat telah diobatinya, dari masyarakat miskin hingga pejabat di kota tersebut.
Namun si pemuda tersebut tidak melupakan keluarganya di desa. Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang kepada ayahnya, sehingga adik adiknya dapat bersekolah di desa, dan kehidupan keluarganya di desa berkecukupan. Melihat keahlian dan bakti si pemuda pada keluarganya, membuat semakin bangga si tabib pada muridnya itu. Dia berminat ingin mewariskan segala ilmunya kepada si pemuda itu, dengan harapan si pemuda tersebut suatu hari kelak dapat menjadi orang yang ahli mengobati semua penyakit dan melayani semua kalangan masyarakat tanpa memandang derajat seseorang.
Si pemuda tersebut tetap terus mempelajari ilmu pengobatan dari berbagai sumber untuk semakin menambah ilmunya. Keahlian dan kehebatan si pemuda tersebut semakin lama semakin terkenal. Tidak hanya di dalam kota bahkan namanya telah dikenal orang di seluruh negeri. Kerapkali dia diundang menjadi pengajar di beberapa sekolah, balai pengobatan hingga universitas di segala penjuru negeri.
Kesibukan dan kesuksesan si pemuda tersebut akhirnya membuat dia lupa pesan gurunya untuk tetap melayani kaum miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkannya. Kesuksesannya telah membuat dia"buta". Dia hanya mau melayani orang kaya, pejabat pejabat dan orang yang dirasa cukup dekat dengannya. Si pemuda menjadi sangat sombong dan bangga dengan ketenarannya sebagai "Tabib No. 1" di negeri ini, sehingga bila ada orang asing yang meminta bantuannya, dia acap kali beralasan sangat sibuk dan tidak punya waktu.
Pembaca yang budiman, dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa menggapai cita-cita untuk menjadi orang sukses dan berhasil itu adalah hal yang sangat baik, selama proses pencapaian kesuksesan tersebut dilandasi kemauan dan semangat yang pantang menyerah dan itikad serta cara yang benar . Namun ada satu hal yang selalu dilupakan orang ketika telah mencapai kesuksesan yang selama ini diharapkan yaitu "HATI", "Hati" untuk tetap berbuat baik, "Hati" untuk semakin rendah hati, "Hati" untuk melayani sesama, dan "Hati" untuk tetap kembali kepada Sang Pencipta.
Kesuksesan sesungguhnya bukan hanya mengejar materi di dunia ini, tapi kesuksesan yang sesungguhnya adalah kita mampu untuk melawan Ego kita dan tetap menjaga hati kita tetap bersih dan melayani sesama dengan tulus tanpa mengharapkan balasan atau demi mencari ketenaran nama baik.
ingat dalam ajaran agama Budha, diajarkan : " Bila kita menolong seseorang dengan tulus, maka kita harus dengan segera melupakan perbuatan baik kita tersebut, namun bila kita ditolong oleh seseorang, maka kita harus membalas kebaikannya 10 x lipat".
Read More… Read More… Read More…

Pendapat ttg ahmadiyah..............

Beberapa pernyataan Mirza Ghulam Ahmad :

1. Pernyataan ini menunjukkan nafsu untuk merampas
wanita : "Tuhan yang Maha Pemurah dan Penyayang telah memerintahkanku
untuk menikahi puteri tertua Ahmad Beg , dan harus mengatakan
kepadanya bahwa sikapku kepadanya bergantung pada hal ini (menerima
lamaran perkawinan), perkawinannya denganku akan menjadi sumber
rahmat dan kebaikan buat ayahnya; dan bahwa dia akan memperoleh semua
rahmat dan kebaikan yang telah aku sebutkan dalam selebaran
tertanggal 20 Pebruari 1886, tetapi seandainya ia menolak lamaranku
ini, maka puterinya akan mengalami sebuah akhir kehidupan yang
tragis. Orang yang akan menikahinya akan meninggal dunia dlam jangka
waktu dua setenagah tahun dari hari perkawinannya. Begitu juga ayah
gadis itu akan meninggal dunia dlam jangka waktu tiga tahun, dan
rumah tangga mereka akn diwarnai dengan ketidakharmonisan,
kemiskinan, dan penderitaan, selama masa itu gadis itu akan menemui
berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dan menyedihkan. ( dimuat
dalam Tabligh Risalat, vo.1 ).


2. Ini ungkapan yang dipakai MGA untuk menyerang orang yang
tidak sepaham dengannya : " dari semua binatang, yang paling kotor
dan menjujikkan adlaa babi. Tetapi yang lebih kotor dari babi adalah
mereka yang telah menyembunyikan kebenaran karena nafsu mereka.
Wahai para Maulana pemakan mayat ! Wahai jiwa-jiwa yang kotor !
Celakan anda karena anda telah menyembunyikan bukti kebenaran Islam
karena kebencian. Wahai cacing kegelapan ! Bagaimana anda bisa
menutupi cahaya kebenaran yang bersinar ? ( dimuat dalam Anjam Atham,
1897)
3. Ini ungkapan yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi : "Aku
telah memperoleh wahyu bahwa siapa saja yan tidak mengikutimu dan
tidak menyatakan sumpah setia kepadamu maka orang yang durhaka kepada
Tuhan dan nabi-Nya akan menjadi penghuni neraka" ( wahyu ini ia
publikasikan pada tanggal 25 Mei 1900, lihat Mi'yar al-akhyar )
4. Ini ungkapan kenabian dan pengkafiran oleh MGA : " Tuhan
telah mewahyukan kepadaku bahwa siapa saja yang telah mendengar
seruanku tetapi tidak mau menerimanya berarti ia bukan seorang
Muslim" (lihat Zikir al-Hakim no:2 )
5. Ini ungkapan pengokohan kenabiannya yang pongah :" Wahai umat
Muslim, aku adalah nabi yang telah dijanjikan oleh al Quran.
Datanglah. Berkumpullah di bawah benderaku. Kalau kamu tidak mau
datang, maka Tuhan tidak akan mengampunimu pada hari kebangkitan dan
kamu akan menjadi penghuni neraka untuk selamanya."
6. Ungkapan loyalitas kepada Inggris : :" Aku berhak untuk
menyatakan bahwa aku unik dalam hal pelayananku ini. Aku adalah jimat
dan benteng yang melindungi pemerintah Inggris dari kemalangan.
Tuhanku telah memberikan kabar gembira kepadaku dan telah mengatakan
bahwa Dia tidak akan menghukum mereka selama aku masih ada di tengah
mereka. Pemerintah tidak akan menemukan orang yang bisa menandingiku
dalam membantu mereka, dan pemerintah harus mengetahui hal ini": (
Nur al-Haq)
7. Ungakapan pembelaan terhadap Inggris sering kali memang
diungkap oleh Mirza Ghulam Ahmad :" sungguh telah aku habiskan
kebanyakan umurku untuk mengokohkan dan membantu pemerintahan
Inggris". Dan Menurut Hasan Bin Mahmud bahwa hubungan MGA dengan
Inggris lebih dekat pada hubungan antara pelayan dan majikan.

Berikut ajaran Ahmadiah yang mengkafirkan umat di luar pengikutnya :
1. "All of those Muslims who have not been integrated in the
oath of fidelity to the Promised Messiah, regardless of whether they
had heard his name or not, are kafir and outside the fold of Islam"
2. Since we regard Mirza Ghulam Ahmad to be a Prophet and the
Non-Admadiyas do not regard him to be a Prophet, and according to the
teachings of the Quran to reject any one of the Prophets is apostasy,
the non-Ahamdiyas are Kafirs"

MGA dengan karakter seperti itu rasanya tidaklah mengikuti karakter
para nabi Allah. Ia hanyalah manusia biasa yang sama sekali tidak
menyamai perilaku para nabi apalagi melampaui lebih baik. MGA
adalah sosok manusia dengan ambisi pribadi untuk mendapatkan sebuah
pengakuan. Ini semacam bentuk sublimasi dari pengalaman masa kecilnya
dan mudanya yang tak pernah mendapatkan perhatian. Dililhat dari
sisi kecerdasan saya sangat yakin ia jauh lebih rendah jika
dibandingkan dengan Paulus. Hal ini saya dasarkan atas statement
kenabian yang menggunakan kebangkitan Isa Al Masih, bukanlah ide dia
tetapi ide dari actor intelektualnya yaitu Hakim Nurudin Bhairawi.
Jadi ide MGA sebagai Isa Al Masih sangat mirip dengan ide kerasulan
Paulus yang didasarkan atas klaimnya bahwa ia melihat Yesus.
Sangatlah sulit dimengerti sosok seperti itu dipercayai oleh para
pengikutnya sebagai Nabi. Hebatnya lagi, aliran ini juga
mengkafirkan dan mengeluarkan dari Islam umat islam pengikut
Rasulullah Muhammad SAW jika tidak mengikuti ahmadiah dan mengimani
MGA si manusia yang mengidap penyakit saraf dan ngompol, serta mati
karena terkena kolera karena sumpahnya sendiri.
Read More… Read More… Read More…